Sekapur sirih..

Selamat datang di blog timdata pendidikan. Blog ini bukan situs resmi dinas pendidikan, namun merupakan wadah sharing informasi pendidikan yg bersifat umum. Admin berperan sbg moderator utk menjaga isi tulisan tetap bersifat umum, tidak bernuansa negatif, SARA, politik dan bermanfaat khususnya bagi dunia pendidikan.

Disarankan untuk teman-teman bisa terhubung melalui telegram messenger untuk memudahkan komunikasi, koordinasi dan pengiriman data dg rekan-rekan di diknas. Jika ingin mencoba telegram tanpa install (versi web) silahkan klik di https://web.telegram.org/ kemudian add contact nomor HP temennya yg udh join duluan utk dapat saling terhubung.

Best Regards, Anang Purnomo K.
HP. 081280755365 Pin BB. 2AEA9536
Guru TIK SMAN 1 Martapura, OKU Timur

Menarik, membatasi media sosial..

https://id.techinasia.com/talk/30-hari-tanpa-media-sosial-waras-atau-gila

http://www.isigood.com/wawasan/11-hal-yang-kita-palsukan-dalam-kehidupan-di-media-sosial/

http://intan-yoesman.blogspot.co.id/2015/04/hidup-tanpa-media-sosial.html
http://female.kompas.com/read/2015/11/19/200500720/Buktikan.Sendiri.Hidup.Lebih.Bahagia.tanpa.Media.Sosial

artikel itu menarik, plus minus media sosial memang tergantung kebijaksanaan penggunanya. apabila kita bersikap dewasa, maka media sosial menjadi sesuatu yang menyenangkan. namun, sebagian besar pengguna sepertinya terhiptonis akan pengaruh negatif media sosial seperti yang dipaparkan dalam artikel tersebut. smeoga kita tidak termasuk diantaranya.

regards,
anang pk

Undangan Kelebihan Pembayaran Tunjangan Fungsional Tahun 2016

LAMPIRAN SURAT.xlsx

Menjadi Idealis itu, Susah!

Lebih baik menjadi orang yang realistis terhadap segala sesuatu. Tidak idealis bukan berarti tidak punya prinsip, karena kita semua memiliki keterbatasan. Kita bebas melakukan apa saja semau kita sesuai prinsip hidup kita. Tapi perlu diingat, kebebasan kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Hak kita juga dibatasi oleh hak orang lain. Sehingga hak dan kebebasan itu bukanlah tanpa batasan. Contoh sederhananya saja begini, apabila kita di rumah memutar musik keras-keras sehingga terdengar sampai tetangga, tentu kita punya hak untuk memutar musik, speaker itu speaker kita, kuping-kuping kita, player music-nya pun punya kita, kuping ya kuping kita juga. Namun tetangga kita juga punya hak untuk suasana tenang. Kita kan tidak pernah mengetahui bagaimana mood tetangga kita, bagaimana suasana hatinya, apakah musik yang disukai sama dengan kita, apa dia sedang berduka, sedang ribut, dsb. Disitulah pentingnya menjaga harmoni, tidak semua yang kita inginkan itu harus terpenuhi. Kita tetap bisa memutar musik tapi volumenya disesuaikan, atau membuat ruang kedap suara jika ingin hingar bingar, atau sederhananya ya pake earphone saja.

Bagaimana dengan orang yang idealis? Tentu jika idealismenya berbenturan dengan nilai-nilai sosial masyarakat di lingkungannya, maka mau tak mau harus melakukan paradigm shifting. Menggeser sudut pandang, bahwa tidak semua hal yang terjadi harus selalu sesuai dengan selera kita. Ada kalanya kita harus melakukan apa yang kurang kita sukai, namun ini adalah kewajiban, selain kewajiban individu juga ada kewajiban bermasyarakat. Misalnya seluruh warga diminta kerja bakti menanam bibit pohon, melakukan penghijauan di sepanjang jalan perumahan. Kadang kala hal itu berbenturan dengan kepentingan pribadi kita, misal kita sedang kelelahan setelah seminggu bekerja, ingin istirahat, refreshing. Atau kita sedang ada kondangan, atau sedang ingin membereskan rumah. Kalau kata teman saya FZ di Kayu Agung 10 tahun yg lalu. Semua itu hanyalah masalah CARA. Apapun aturannya, bagaimanapun rewards and punishment-nya tapi kalau CARA-nya itu salah, maka hasilnya pun berantakan. Mungkin kita tidak sempat ikut kerja bakti, tapi bisa mampir beberapa menit sambil membawa gorengan atau sekedar ngobrol dengan beberapa orang dan permisi untuk tidak ikut, dilain kesempatan saat kita tidak berhalangan kita bisa lebih lama berkumpul untuk mengganti waktu yang hilang. Penulis sendiri bukanlah orang yang idealis dan bukanlah orang yang mampu bersosial dengan baik di masyarakatnya. Untuk itu melalui tulisan ini kita sama-sama menganalisa sudut pandang seperti apa yang sesuai dengan kehidupan bermasyarakat?

Jadi apa hubungannya dengan prinsip hidup? Selalu berhubungan. Bagaimana prinsip hidup yang positif itu menjadi tolak ukur, penyeimbang dan menjaga kita dari hal-hal yang merugikan. Prinsip hidup tentu harus disesuaikan dengan norma dan aturan. Setiap orang pasti punya prinsip, hanya kadang kekuatan prinsip itu tenggelam dalam pusaran arus lingkungan yang negatif. Ada yang punya prinsip tidak mau korupsi, tapi dalam pelaksanaannya terseret arus sistem yang mengharuskan terjadinya korupsi baik secara langsung atau tidak langsung, kalaupun tetap ingin bebas korupsi maka harus siap dikucilkan, dijadikan data pencilan, masih untung kalau tidak dimusuhi. Masalah CARA menyikapi keinginan bebas korupsi pun harus bijaksana. Jangan mentang-mentang ingin bersih lalu menjadi sok suci, merasa paling benar, merasa yang lain salah semua, menjelekkan pimpinan, menyalahkan keadaan, dsb. Ya, kalau pingin bersih itu kan tergantung iman, selemah-lemahnya iman cukup di hati saja untuk berkata TIDAK. Kalaupun berada di sistem yang koruptif tentu banyak cara untuk menolak atau pengalihan materi yang dianggap bernuansa koruptif tanpa harus menyinggung rekan kerja apalagi atasan. Kita juga tidak tau apakah rekan kerja atau atasan yang kita anggap “bermain api” itu memang betul keinginan hawa nafsu dia pribadi atau ada faktor lain diluar kemampuan dia, dan mungkin juga dia sudah mengirim sinyal SOS tapi belum ada yang sanggup menolongnya. Ada lagi yang prinsipnya H3, Halal Haram Hantam! Mau cari yang haram aja susah apalagi yang halal. Ya sudah kalau memang dia mendeklarasikan prinsipnya seperti itu ya biarkan saja, siapatau memang ada tujuan mulia untuk keluarganya atau masyarakat di lingkungannya dibalik itu semua. Siapatau hanya dimulut saja dia berkoar-koar berani korupsi tapi jauh dilubuk hati terdalam, HATI-nya tegas menolak untuk korupsi. Maksud dari teriakannya hanya untuk menjaga keikhlasannya apabila harta yang diperolehnya disalurkan lagi ke yang membutuhkan, misalnya mengangkat derajat masyarakat melalui program-program yang bersentuhan langsung dengan kemanusiaan, who knows?

Kita yakin akan pepatah "siapa menabur angin akan menuai badai" maka dari setiap apa yang diperbuat maka harus siap dengan segala akibat dan konsekuensinya. Kalaupun kita dipersalahkan atas apa yang tidak kita perbuat, mungkin kita bisa berkaca lagi, bahwa lebih banyak lagi kita tidak dipersalahkan atas kesalahan yang kita buat, bahkan kita mendapat pembenaran atas kesalahan yang kita yakini sudah kita lakukan. Jadi "take and give", "sebab-akibat", "hukum-keseimbangan" itu merupakan hukum universal, atau bahasa di Agama Islam, bahwa semua itu adalah sunatullah, tidak memandang agama, suku, status sosial dan sebagainya.

Sehingga dapat kita simpulkan juga bahwa tidak semua orang yang dipenjara itu adalah orang yang bersalah, dan tidak semua orang yang diluar penjara itu adalah orang yang bersih. Kalaupun mendapat musibah perlu direnungkan, apakah musibah itu merupakan teguran / hukuman atas segala kesalahan yang sudah kita perbuat, sehingga kita sadar dan berubah menjadi lebih dekat kepada Allah SWT. Atau musibah itu merupakan ujian atas konsistensi kita dalam beribadah dan menjaga hati sehingga ketika lulus nanti rezeki dan kebahagiaan itu akan selalu ditambah. Mungkin juga musibah datang karena tanpa sadar kita menjadi riya’ dan sombong, mengecilkan orang lain, membuat orang lain tersinggung, terhina, sehingga sebagian dari mereka yang entah sengaja / tidak sengaja telah kita dzalimi itu mengadu pada-Nya untuk meminta keadilan, dan datanglah musibah itu.

Apapun itu, semoga semuanya akan kembali seperti sedia kala… Hati, pikiran, dan akhak kembali seperti dulu.. Dulu saat kita masih fitrah, saat masih polos, saat bisa memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang salah, saat berani mengambil keputusan untuk istiqomah dalam kebaikan. Saat bisa menjaga hati dan perasaan orang lain, khususnya perasaan orang-orang yang sangat berjasa dalam hidup kita, yang segala kebaikannya tidak mungkin dapat kita kembalikan, siapa dia? Dialah orang tua kita..

Penulis,
Anang Purnomo Kurniawan
(APK)

Kebisingan Media Sosial

Beberapa hari yang lalu saya menutup salah satu akun media sosial saya, yaitu facebook. Kenapa saya tutup? Saya hanya tidak ingin mengetahui urusan orang lain melalui status yang dibuatnya. Apa itu berarti saya tidak peduli sama orang lain? Nah, saya nggak tau juga karena itu relatif ya.. Peduli tidak harus selalu diartikan mengikuti status facebook orang lain. Kalau memang teman atau saudara ada yang butuh bantuan, kan bisa melalui telepon atau media sosial lain yang tidak sebising facebook.

Kenapa facebook bising? Mungkin terlalu banyak kamuflase yang ada di media sosial itu. Tentu maksud facebook adalah memudahkan untuk setiap kita berinteraksi atau bersosial melalui media online. Tapi kecanggihan teknologi dapat membawa mudharat apabila tidak bijak dalam menggunakannya. Bagi saya, sementara ini, kebanyakan media sosial justru bikin pikiran tambah ruwet, karena sering yang kita lihat tidak sesuai kenyataan. Apalagi banyak status juga yang berisi link berita hoax, saling fitnah, ujaran kebencian, hasutan dan kebanyakan merasa sebagai orang yang paling benar, paling mengetahui dan bisa melupakan norma etika, tata krama, kesopanan dalam berbahasa. Meskipun ada UU ITE dsb untuk mengatasi permasalahan itu tapi tentu penyelesaiannya butuh prioritas dari skala yg melibatkan orang penting atau mempengaruhi banyak orang, sementara masih banyak lagi bakal kasus yang belum tersentuh karena berbagai keterbatasan. Kuncinya adalah, bagaimana kita sebagai netizen bersikap bijaksana dalam menyikapi perbedaan. Sebenarnya bukan hanya di facebook, dibanyak media sosial lainnya dan juga di komentar berita pun sering kita jumpai tulisan atau komentar yang tidak sesuai dengan budaya timur, budaya bangsa kita yang beradab.

Ketika kita berusaha menyeimbangan konten yang tidak sesuai tersebut, justru seolah-olah kitalah yang menjadi masalahnya, sebagai penganggu "zona nyaman" budaya baru era modern yang bebas berekspresi. Antara idealisme, pragmatisme, opportunisme, realistis dan materialistis kadang berpadu menjadi kekuatan yang saling tarik menarik dan kita sendiri tidak mengetahui yang mana nanti akan mendominasinya.

Setiap pikiran dan hati kita bersumber dari energi, bisa energi positif maupun negatif. Ibarat baterai HP, energi itu perlu di charge. Apakah kita memakai charger orisinil yg mungkin lebih lama penuhnya atau kita pakai charger palsu yang cepat penuh tapi baterai jadi panas dan cepat drop. Saat kehabisan energi, media sosial kadang menjadi salah satu charger kita, berharap dapat menenangkan pikiran, refreshing, menambah wawasan, bersosial, dan sebagainya, tapi harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Link Download Aplikasi Ujian Online Gratis

Sebelumnya saya pernah kirim link langsung dari Pak Kurnia Yahya, tempat saya memperoleh aplikasi ini secara gratis. Tapi ada yg minta saya utk backup di google drive. Silahkan klik di link berikut sebagai alternatif.

https://drive.google.com/open?id=0BygeAPlwUVFpbmVSX25VRmNzLW8

Catatan: dari pengembang aplikasi menyatakan bahwa aplikasi itu gratis dan tidak boleh diperjual belikan. Mari kita berbagi secara gratis!

Trims,

Anang PK

DI INFORMASIKAN KEPADA SEKOLAH YANG BELUM MENGUMPULKAN SURAT PERNYATAAN KEHADIRAN TRIWULAN III (JULI, AGUSTUS, SEPTEMBER) TAHUN 2016

BERKASNYA KAMI TUNGGU PALING LAMBAT HARI SELASA TANGGAL 13 DESEMBER 2016 DI RUANG PTK (DESTY DIKNAS)
DAFTAR NAMA SEKOLAH TERLAMPIR.

NAMA-NAMA SEKOLAH YANG BELUM MENGUMPULKAN BERKAS SURAT PERNYATAAN KEHADIRAN BAGI GURU YANG SERTIFIKASI.xlsx

Contoh Surat Lamaran Kerja Bahasa Palembang

Sumber: FB Fahri Z.

SURAT LAMARAN KERJA
Hal : Berasan Gawe

Kepada
Yth. HRD PT Ado Nian Di Mano

Assalamu’alaikum Pak..
Tadi tu aku ado tebaco di koran "Sumeks" terbitan pagi nilah pak, kujingok ado lokak, oleh itu ku niatke berasan samo bapak lewat surat ni. Katonyo bapak lagi nyari wong nak begawe e? nah pas nian, akor. Aku ni lagi nyari gawean jugo pak. Men sarat-sarat yang bapak pintak tu ado galo, mula’ i dari ijasa, skck, kartu kuning, teko amplopnyo la siap galo d rumah ku ni pak, pokoknyo dak ke nyesal lah bapak milih aku ni, cayo lah pak omongan aku, tapi jangan percayo nian, gek uji wong bapak nduo ke Tuhan, yg bener, "cayo bae" ji wong2 tu pak.

Maap ngomong pak, bukan maksud nak ngambok’i, betakoan, apo lagi besak kelakar. Men masalah ke paca’an, hamper nak ado galo di tubuk ni pak, lengkap. komputer? Men ni dak usalah ditanyo pak,mungkin bapak dak cayo, kecik dulu, kawan-kawan aku sibuk maen ekar galo, aku la maen solitare, bayangkela pak.

Kalu bahaso, ku dewek la dak cak ngitung lagi brapo yg ku biso, ngomong ingris, biso, ngomong indonesia, apo lagi pak, lah dangke baso Sekayu, Komreng, Pagaralam be aku pacak, bapak dewek be lom tentu biso kan?. belom seberapo itu pak, ngomong Arab, ngomong Cino, ngomong Latin, itu la di luar kepala galo pak. Maap ngomong pak ye keperi nyo, teko muat pempek lagi biso nah, saking ke dak keloroan lagi, jadi, yo cokop semak inilah dulu be kusebuti.

Tinggal di bapak tula sekarang, bepikir lah dewek, kalu waya-waya gawean yg cak bapak soroh tu, bukan nak nului Tuhan, sanggoplah aku ni pak. Bukan apo, ini bukan pulo nak makso, apo lagi nak nyerama’i bapak, sekedar ngingetke petuah wong tuo2 kito dulu "pilih-pilih tebu, tepilihlah batang bambu".

Tapi yo, balek-balek ke kamu tula pak, men aku ni dak pulok banyak rasan men seandainyo diterimo, bapak taunyo gawean aku tu bagus, bapak puas dapet hasilnyo, aku jugo men bapak senang nerimo gajinyo lemak. Suko samo suko jadi pak.

Sampe disini doken pak yo, sekironyo bapak penasaran samo aku, apo nak nanyo-nanyo yang laen, telpon bae pak, asak jangan jam 7 apo jam 8an malem bae pak, soalnyo wong ruma nih galak nelpon di jam jam itu. dak nak manjangi tali kelambu, ini nomor hape aku (08** **** ****) simpen be di kontak bapak, tapi blakang namo jangan lupo tambai "Belagak" , bukan apo-apo pak, maksudnyo tu supaya bapak dak lupo, trus jg biar mudah ngingetnyo.

Iyo lah pak, cukup cak nyo. Mokaseh banyak sebelumnyo, men ado salah2 omong maapke be pak,"lebaran ke rumah". Caro manusio lah pak, salah, khilaf, apo lupo itu biaso, asak jangan bae disengajo. Payolah begoyor pamit pak, smoga bapak panjang umur dan kito dikasi kesempatan betemu. Aamiin…

"Bunga jingga, langit kelabu
aduhai bapak yang bijaksana, telpon segera itu nomorku"

Hormat kami,
Lanang Belagak yang perlu gawean

😂😂